Oleh: Fu'adz Al-Gharuty | 25 Maret 2009

Pendidikan..oooh….Pendidikan…


Kunci maju mundurnya suatu bangsa yaitu pendidikan. Sejarah menunjukkan bangsa-bangsa yang maju meskipun telah hancur, namun dapat bangkit kembali karena memperhatikan pendidikan. Jepang yang kalah pada Perang Dunia II dalam waktu kurang dari 20 tahun, dapat maju dan menguasai industri dunia menjadi bukti. Saat Jepang hancur, Kaisar Jepang tidak bertanya jumlah tentara yang masih hidup tetapi yang ditanyakan adalah jumlah guru yang dimiliki. Maka dimulailah pembangunan Jepang dengan pendidikan yang berkualitas. Akhirnya Jepang pun kembali tampil sebagai negara besar. Hal itu pun terjadi di negara jiran Malaysia, juga Korea dan Cina. Ternyata terbukti bahwa negara yang memperhatikan pendidikan akan menjadi negara yang jaya. Demikian pula dengan bangsa Indonesia yang terus mencoba berbenah melepaskan diri dari berbagai permasalahan. Jika ingin bangkit, maka tidak ada jalan lain kecuali memperhatikan pendidikan. Dengan pendidikan yang berkualitas maka akan lahir generasi berkualitas sebagai pemimpin bangsa di masa kini dan masa datang.
Tujuan penyelenggaraan pendidikan di setiap negara tidak sama, begitu pula di negara kita yang masih berkembang, memiliki tujuan yang berbeda dengan negara lain yaitu untuk mencerdaskan bangsa sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945 alinea ke-empat.
Pembangunan nasional di bidang pendidikan merupakan upaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan sumber daya manusia dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan setiap warganya berhak untuk mengembangkan dirinya baik yang menyangkut jasmaniah maupun rohaniah yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. (Depdikbud.1992:3) Pembangunan Nasional pada hakekatnya bertujuan mencari nilai tambah (values added) agar kehidupan hari esok lebih baik dari pada kehidupan hari ini. Kehidupan dimasa mendatang lebih berat dari pada hari sekarang dimana pertambahan penduduk yang tinggi, kemajuan teknologi yang semakin canggih, informasi globalisasi yang akan berdampak terhadap tatanan kehidupan bangsa baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam GBHN tahun 1993 disiratkan bahwa pembangunan jangka panjang bertujuan mewujudkan bangsa yang maju dan mandiri serta sejahtera lahir dan batin sebagai landasan bagi tercapainya terhadap pembangunan berikutnya dalam rangka menuju masyarakat adil dan makmur dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah menetapkan sasaran umum pembangunan nasional yakni terciptanya kualitas manusia dan kualitas masyarakat Indonesia yang maju dan mandiri serta suasana tentram, sejahtera lahir dan batin dengan titik berat pembangunan pada sektor ekonomi yang merupakan penggerak utama pembangunan seiring dengan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Salah satu upaya peningkatan kualitas sumber daya tentunya adalah lewat proses pendidikan. Pendidikan menjadi faktor penting penentu kemajuan suatu bangsa, sebab pendidikan yang baik akan menciptakan generasi bangsa yang baik pula. Oleh sebab itu pembangunan bidang pendidikan haruslah menjadi prioritas utama untuk menciptakan kualitas sumber daya manusia yang unggul.
Prof. Langeveld (dalam Salam, 1997;3) seorang ahli pedagogic dari Belanda mengemukakan batasan pendidikan, bahwa pendidikan ialah suatu bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai tujuan, yakni kedewasaan. Istilah bimbingan menurut Salam (1997;4) secara filosofis dapat dihayati bahwa pendidikan itu merupakan suatu usaha yang disadari, bukan suatu perbuatan yang serampangan begitu saja, yang harus dipertimbangkan segala akibatnya dari perbuatan-perbuatan mendidik itu. Berkaitan dengan istilah mendidik ini, Prof. Darji Darmohardjo (dalam Salam, 1997;5) memberikan suatu penjelasan sebagai usaha yang lebih ditujukan kepada pengembangan budi pekerti, semangat, kecintaan, rasa kesusilaan, ketakwaan dan lainnya.
Berbicara pendidikan sudah barang tentu tidak akan terlepas dari sekolah sebagai salah satu organisasi pendidikan, yang menjadi wadah bagi pencapaian tujuan nasional tersebut. Keberhasilan tujuan pendidikan di sekolah bergantung juga pada sumber daya manusia yang ada di sekolah tersebut, yakni kepala sekolah, guru, siswa, pegawai/staff tata usaha, dan tenaga kependidikan lainnya. Selain itu, perlu juga didukung oleh berbagai kelangkapan sarana prasarana penunjang pembelajaran yang memadai.
Dalam organisasi sekolah, kepala sekolah merupakan pimpinan yang bertanggung jawab atas keberlangsungan organisasi sekolah. Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Hal ini seperti yang dijelaskan Supriadi (1998:346) bahwa ”erat hubungannya antara mutu kepala sekolah dengan berbagai aspek kehidupan sekolah seperti disiplin sekolah, iklim budaya sekolah, dan perilaku nakal peserta didik”. Oleh sebab itu, kepala sekolah bertanggung jawab atas manajemen pendidikan secara mikro, yang secara langsung berkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah. Hal tersebut dikuatkan pula oleh PP No. 28 tahun 1990 pasal 12 ayat 1, bahwa ”kepala sekolah bertanggungjawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana”.
Urgensi dan signifikansi fungsi dan peranan kepala sekolah didasarkan pada pemahaman bahwa keberhasilan sekolah merupakan keberhasilan kepala sekolah. Oleh karena itu, kepala sekolah perlu memiliki kompetensi yang disyaratkan agar dapat merealisasikan visi dan misi yang diemban sekolahnya. Sejumlah pakar sepakat bahwa kepala sekolah harus mampu melaksanakan pekerjaannya sebagai edukator, manajer, administrator dan supervisor, yang disingkat EMAS. Dalam perkembangan selanjutnya, sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman, kepala sekolah juga harus mampu berperan sebagai leader, inovator dan motivator di sekolahnya. Dengan demikian, dalam paradigma baru manajemen pendidikan, kepala sekolah minimal harus mampu berfungsi sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, inovator dan motivator, disingkat EMASLIM.
Keberhasilan kepala sekolah dalam menjalankan tugas, peran, dan fungsinya di sekolah, tidak akan terlepas dan selalu berkaitan dengan iklim dan budaya organisasi sekolah. Kepala sekolah dituntut untuk menciptakan budaya organisasi sekolah yang baik sehingga akan mampu mewujudkan gerak langkah organisasi yang dinamis dan terarah. Namun disisi lain, kepala sekolah pun akan sangat dipengaruhi oleh iklim dan budaya organisasi yang telah ada sebelumnya, sehingga disinilah seni kepemimpinan berperan penting dalam mengadaptasi kondisi yang ada terhadap visi misi yang akan dijalankan ke depannya.
Secara umum, penerapan konsep budaya organisasi di sekolah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan penerapan konsep budaya organisasi lainnya. Kalaupun terdapat perbedaan mungkin hanya terletak pada jenis nilai dominan yang dikembangkannya dan karakateristik dari para pendukungnya. Berkenaan dengan pendukung budaya organisasi di sekolah Paul E. Heckman sebagaimana dikutip oleh Stephen Stolp (1994) mengemukakan bahwa “the commonly held beliefs of teachers, students, and principals.” Nilai-nilai yang dikembangkan di sekolah, tentunya tidak dapat dilepaskan dari keberadaan sekolah itu sendiri sebagai organisasi pendidikan, yang memiliki peran dan fungsi untuk berusaha mengembangkan, melestarikan dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada para siswanya. Dalam hal ini, Larry Lashway (1996) menyebutkan bahwa “schools are moral institutions, designed to promote social norms,…” .
Nilai-nilai yang mungkin dikembangkan di sekolah tentunya sangat beragam. Jika merujuk pada pemikiran Spranger sebagaimana disampaikan oleh Sumadi Suryabrata (1990), maka setidaknya terdapat enam jenis nilai yang seyogyanya dikembangkan di sekolah
No Nilai ———–> Perilaku Dasar
1. lmu Pengetahuan —> Berfikir
2. Ekonomi —> Bekerja
3. Kesenian —> Menikmati Keindahan
4. Keagamaan —> Memuja
5. Kemasyarakatan —> Berbakti/berkorban
6. Politik/Kenegaraan —> Berkuasa/Memerintah

Di sekolah terjadi interaksi yang saling mempengaruhi antara individu dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial. Lingkungan ini akan dipersepsi dan dirasakan oleh individu tersebut sehingga menimbulkan kesan dan perasaan tertentu. Dalam hal ini, sekolah harus dapat menciptakan suasana lingkungan kerja yang kondusif dan menyenangkan bagi setiap anggota sekolah, melalui berbagai penataan lingkungan, baik fisik maupun sosialnya. Moh. Surya (1997) menyebutkan bahwa:
“Lingkungan kerja yang kondusif baik lingkungan fisik, sosial maupun psikologis dapat menumbuhkan dan mengembangkan motif untuk bekerja dengan baik dan produktif. Untuk itu, dapat diciptakan lingkungan fisik yang sebaik mungkin, misalnya kebersihan ruangan, tata letak, fasilitas dan sebagainya. Demikian pula, lingkungan sosial-psikologis, seperti hubungan antar pribadi, kehidupan kelompok, kepemimpinan, pengawasan, promosi, bimbingan, kesempatan untuk maju, kekeluargaan dan sebagainya.”

Upaya untuk mengembangkan budaya organisasi di sekolah terutama berkenaan tugas kepala sekolah selaku leader dan manajer di sekolah. Dalam hal ini, kepala sekolah hendaknya mampu melihat lingkungan sekolahnya secara holistik, sehingga diperoleh kerangka kerja yang lebih luas guna memahami masalah-masalah yang sulit dan hubungan-hubungan yang kompleks di sekolahnya. Melalui pendalaman pemahamannya tentang budaya organisasi di sekolah, maka ia akan lebih baik lagi dalam memberikan penajaman tentang nilai, keyakinan dan sikap yang penting guna meningkatkan stabilitas dan pemeliharaan lingkungan belajarnya
Selain kepala sekolah dan budaya organisasi sekolah, komponen lain yang ikut mendukung terciptanya kualitas pendidikan yang baik adalah guru sebagai tenaga pendidik yang berinteraksi langsung baik dengan peserta didik, kepala sekolah, lingkungan dan lainnya. Keberadan guru merupakan pelaku utama sebagai fasilitator penyelenggaraan proses belajar siswa. Oleh karena itu kehadiran dan profesionalismenya sangat berpengaruh dalam mewujudkan program pendidikan nasional. Guru harus memiliki kualitas yang cukup memadai, karena guru merupakan salah satu komponen mikro sistem pendidikan yang sangat strategis dan banyak mengambil peran dalam proses pendidikan persekolahan (Hisyam, 2000;27)
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20/2003 Bab IX pasal 39, dinyatakan bahwa;
1. Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelola, pengembang, pengawas, dan pelayan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.
2. Pendidikan merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik di perguruan tinggi.

Untuk dapat melaksanakan tugas peran dan fungsinya seperti di atas, maka seorang guru dituntut memiliki kompetensi yang cukup memadai, baik dari sisi pendidikan formalnya maupun kemampuan personalnya. Berkaitan dengan kompetensi guru, Ani M. Hasan (2003;5) memberikan beberapa kriteria seorang guru yang kompeten diantaranya; 1) mempunyai komitmen terhadap siswa dan proses belajarnya; 2) menguasai secara mendalam bahan/materi pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajar kepada siswa; 3) bertanggungjawab memantau hasil belajat siswa melalui berbagai evaluasi; 4) mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya, dan belajar dari lingkungan profesinya.
Kompetensi seorang guru tentunya akan sangat mempengaruhi kinerjanya dalam proses pembelajaran di sekolah. Salah satu indikator penilaian kinerja guru ini bisa dilihat dari hasilnya (output), bagaimanakah hasil prestasi siswa baik berupa hasil ujian atau sejenisnya sesuai dengan standarisasi yang ada atau tidak. Jhonson (1974;6) memberikan penjelasan mengenai relevansi antara kompetensi guru dengan kinerjanya. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa puncak (perwujudan) dari kompetensi guru adalah komponen kinerjanya, yang merupakan seperangkat perilaku yang ditunjukan oleh seorang guru pada saat memberikan pelajaran kepada peserta didik.
Selain faktor kompetensi yang mempengaruhi kinerja seorang guru, ada beberapa faktor penting lainnya yang tentunya sangat berpengaruh besar terhadap kinerja seorang guru. Seperti yang digambarkan oleh Sutermeister (1976;1) beberapa faktor tersebut diantaranya; latihan dan pengalaman kerja, pendidikan, sikap kepribadian, organisasi, para pemimpin, kondisi sosial, kebutuhan individu, kondisi fisik, tempat kerja, motivasi kerja, dan lain sebagainya. Dari sana kita bisa melihat bahwa kinerja seorang guru tidaklah mutlak dipengaruhi oleh satu faktor saja, melainkan banyak faktor yang mempengaruhinya.

sekarang yang menjadi persoalan adalah bagaimanakah kondisi pendidikan indonesia saat ini? apa indikator yang menggambarkan keberhasilan pendidikan kita sejak tahun 45? bagaimanakah kualitas para pendidik di tanah air ini?
Pendidikan sekarang menjadi komoditas politik yang sangat menguntungkan bagi para petualang politik. dalam berbagai visi dan misi parpol, semuanya mengatakan hal yang sama untuk memajukan pendidikan di Indonesia yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhya. tapi kalau kita lihat, itu hanya terhenti pada jualan jargon2 kampanye saja, realitasnya masih jauh panggang dari api. pemerintahan sekarang saja yang sudah diberi amanah oleh undang-undang untuk mewujudkan 20% anggaran pendidikan dari APBN belum kelihatan bukti nyatanya. pendidikan tetap saja hanya sebatas komoditas politik semata, sedangkan pembangunan dan pembenahan sektor pendidikan masih tetap terabaikan….akan kah kita diam melihat ini semua?
semoga tidak…hanya satu kata BERTINDAK..!!!


Responses

  1. kita berharap, boleh…!
    bagaimana membangkitkan orang agar peduli dengan keadaan yang maikin hari makin terasa kemundurannya ini.

    dengan rasa peduli dari masing2 elemen, kita tanpa disuruh, diarahkan oleh negara, maka dengan sendirinya kita akan maju.

    salam

    Bejo Saputro

  2. Jalan keluarnya?

  3. solusinya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: