Oleh: Fu'adz Al-Gharuty | 5 Maret 2009

PERUBAHAN TRADISI GERAKAN HMI; Dari Utopia ke Realita


Peranan HMI, baik dalam dimensi kemahasiswaan, keummatan maupun kebangsaan, pada satu dekade terakhir seolah tidak mempunyai arti yang cukup significant. Kader HMI sudah terjebak pada rutinitas aktifitas organisasi yang mengarah pada “kejumudan” gerakan. HMI hanya mampu bernostalgia dengan kejayaannya pada era 60 s.d. 70-an, tanpa mampu melakukan suatu gebrakan baru yang mampu melebihi kesuksesan angkatan seniornya terdahulu. Kalaupun HMI terangkat dalam wacana public, ternyata itu hanyalah peranan satu atau segelintir kader saja yang memang mempunyai kualitas personal yang mumpuni, bukan bergerak sebagai sebuah organisasi.
Sekarang ini, kita mesti berpikir lebih cerdas dan bekerja lebih keras untuk membuat babak baru bagi HMI yang jauh lebih baik dari masa lalu. Kondisi umum dalam dunia kemahasiswaan, keummatan dan kebangsaan sekarang ini jauh lebih kompleks dibanding pada masa senior kita terdahulu, sehingga aktifitas HMI zaman sebelumnya janganlah dijadikan acuan pokok, apalagi dianggap mengikat dan baku (taklid). Kejayaan HMI dahulu memang masih tetap harus dijadikan cerminan oleh kita, agar mampu memproyeksikannya pada masa kini dan ke depan. Namun tentunya kondisi yang sudah jauh berubah dan sangat berbeda, saat ini membutuhkan strategi dan taktik yang jauh lebih visionable, up todate, realistis-rasional, dan menjamin kebutuhan dasar dari para kadernya, serta lingkungan dimana HMI berada.
Kejumudan aktifitas HMI barangkali disebabkan oleh banyak hal, namun saya melihat beberapa faktor yang perlu dijadikan perhatian, sekaligus prioritas perubahan perilaku organisasi dan pribadi, agar mampu memecah kebekuan (ice breaker) yang dirasakan sudah mempersempit ruang gerak HMI. Prasyarat utama dari perubahan ini adalah adanya political will dari para pengurusnya –dari PB sampai komisariat– terutama dalam membuat sistem baru yang lebih adaptif dengan keadaan internal dan eksternal HMI, dan tersedianya kualitas SDM para kader HMI yang memikul tanggungjawab serta akan berperan aktif progressif dalam menjalankan program perubahan tersebut.
Hal yang mesti dicatat adalah bahwa sejak pertengahan tahun 90-an, wacana perubahan gerakan HMI sudah mencuat ke permukaan, bahkan dalam setiap event nasional HMI, seperti kongres atau rakornas, hal itu selalu bergulir menjadi wacana “yang asyik untuk dibicarakan”. Tapi realitasnya membuktikan pada kita bahwa HMI kini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, “adanya seperti matinya”. Lantas apa yang mesti kita upayakan dan lakukan bersama ? ingat “bersama”, sebagai satu kesatuan dalam wadah organisasi yang namanya HMI. Saya mencoba memberikan beberapa pointers yang patut kita lakukan untuk merubah paradigma gerakan HMI.

Dari Tradisi Lisan ke Tradisi Tulisan

Tidak dapat disangkal lagi, sebagian besar kader HMI pandai “ngemeng” (kaum mutakallim) baik dalam forum resmi maupun non formal. Kemampuan tradisi lisan ini merupakan potensi yang sangat besar di HMI, bahkan modal yang sangat besar bagi kebangkitan eksistensi HMI. Namun, tradisi lisan tersebut bisa jadi bumerang bagi kita, jika ternyata “lain di perkataan, lain pula diperbuatan”. Wacana perubahan pada event-event nasional tidak pernah atau sedikit sekali membawa perubahan pada wajah kusam HMI, karena hal itu memang baru pada fase “asyik untuk dibicarakan”, tapi sulit dan berat untuk dimanifestasikan. Padahal bila apa yang ingin atau sedang “dibicarakan” dibuat dalam format tulisan utuh yang ilmiah dan di disemenasikan kepada seluruh kader HMI, tentunya akan lebih bermakna dan bermanfaat bagi perubahan HMI.
Intinya jika terjadi perubahan dalam perilaku organisasi dan personal kadernya, dengan sekuat tenaga dan usaha untuk mencoba minimal menyeimbangkan tradisi lisannya dengan tradisi tulisan, bukan mustahil menjadikan HMI sebagai satu-satunya organisasi kemahasiswaan yang produktif dalam tradisi ilmiahnya, yang secara langsung atau tidak, akan memicu perubahan tradisi di HMI menuju ke arah yang lebih baik. Kita harus berkaca pada sejarah, kebudayaan Yunani dan Islam masih tetap dikenang dan dielu-elukan oleh masyarakat disebabkan mereka mewariskan tradisi tulisannya kepada generasi berikutnya. Mampukah kita?

Dari Konservatisme ke Progressif Revolusioner

Kejumudan biasanya lebih banyak disebabkan oleh sikap-sikap taklid buta yang tanpa disadari merasuki pikiran dan perasaan kita, sehingga memunculkan suatu sikap yang enggan untuk berbeda atau berubah dari seniornya terdahulu. Padahal Islam mengajarkan pada kita untuk berani berijtihad. Aktifitas organisasi bukanlah aqidah agama, maka berbeda atau berubah merupakan suatu keharusan agar kita mampu survival dalam kancah gerakan.
Sikap konservatifisme yang selalu membayangi kader HMI biasanya juga disebabkan oleh campur tangan para “tetua” (senior) yang selalu menjadi bayang-bayang para kader junior dalam setiap aktifitasnya. Oleh karena itu, mencoba untuk keluar dari bayang-bayang senior merupakan langkah awal bagi terwujudnya perubahan. Mentalitas progressif revolusioner sangatlah penting artinya untuk suatu perubahan dan perombakan mendasar, karenanya dibutuhkan keberanian dan kematangan untuk melangkahkan kaki menuju perubahan. Sikap seperti itu akan sangat berkorelasi dengan perkembangan intern dan ekstern HMI, sehingga melahirkan aktifitas yang sesuai dengan perkembangan kekinian.

Dari Reaktif ke Proaktif

Tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan. Perubahan senantiasa hadir disekeliling kita. Tuntutan untuk merespon perubahan itu selalu ada dihadapan kita. Yang penting adalah bagaimana penyikapan kita terhadap perubahan yang terjadi itu! Kita diharamkan untuk alergi terhadap perubahan, sebab perubahan akan senantiasa membayangi terus dimanapun kia berada dan kemanapun kita melangkah. Satu hal yang penting adalah bagaimana reaksi kita terhadap gejala perubahan yang ada, bagaimana penyikapan kita selanjutnya terhadap fenomena perubahan tersebut. Aksi yang mesti kita lakukan adalah harus senantiasa dilandasi oleh pemikiran yang cerdas, perencanaan yang matang, pengorganisasian yang solid dan terkoordinasi, action yang sesuai dan tidak berlebihan. Jangan pernah pernah melahirkan reaksi yang berlebihan, karena akan cenderung emosional.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, kiranya kita perlu menganalisa gejala perubahannya terlebih dahulu. Gejala haruslah bisa kita tangkap/ketahui, sebab jika hal itu tidak kita ketahui maka kita akan kecolongan dan terjebak dalam arus perubahan tersebut, tanpa pernah bisa disikapi secara proporsional dan profesional. Oleh karenanya, para pengurus dan kader HMI harus mempunyai insting dan naluri (selain pengetahuan dan pengalaman tentunya) yang handal untuk menangkap/mengetahui gejala awal dari perubahan yang akan atau sedang terjadi. Sudah barang tentu basic keilmuan, pengetahuan dan pengalaman yang paling menentukan kritisisme serta analisa terhadap perubahan tersebut. Jika mampu menganalisa gejala perubahan sedini mungkin, sudah barang tentu akan melakukan gerakan yang bersifat proaktif ketimbang yang reaktif.

Dari Kuantitas ke Kualitas

Kuantitas dan kualitas tidaklah bertolak belakang, bahkan idealnya balance. Namun, realitas dalam wajah suram HMI memperlihatkan bahwa aktivitas selama ini lebih condong pada seberapa banyak kegiatan atau kader yang berhasil dibuat/dicetak, bukan bagaimana mutu atau outputnya. Sekaranglah saatnya untuk meninggalkan sikap mental seperti itu, karena kader yang direkrut sudah cukup banyak dan pengalaman membuat berbagai program kegiatan sudah matang, tinggal bagaimana kita memoles dan mengembangkan yang sudah ada menjadi sesuatu yang lebih bernilai guna, serta membuat yang baru dengan kualitas yang lebih baik, meskipun secara kuantitatif sedikit.
HMI sudah overload, itulah mungkin kata yang tepat mendeskripsikan kondisi HMI kini. Banyaknya kader tidak menjamin HMI besar secara kulitatif, malah membuat bingung dan cape para pengurus dalam membina dan mengikatnya. Banyaknya program kegiatan yang tidak jelas outputnya hanya membuang biaya dan tenaga, cenderung berorientasi pada program pengurus bukannya orientasi kebutuhan. Sebetulnya HMI memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan kualitasnya, baik dari segi pendanaan, kepedulian seniornya, fasilitas yang dimiliki atau bisa dipinjam, resources anggotanya, dll, tinggal bagaimana meracik itu semua untuk mengarah pada segala aktivitas yang berorientasi pada peningkatan kualitas anggota dan organisasinya.

Dari Nafsi-Nafsi ke Jama’ah

Desentralisasi yang selama ini dijalankan dalam roda organisasi HMI melahirkan ekses yang kurang baik (meskipun pada tingkat yang relatif kecil), diantaranya lemah dalam koordinasi pusat-daerah, serta kurang sistematis dalam melakukan gerakannya. Kurang tertanamnya sikap mental jama’ah organisasi membuat gerakan HMI tidak mampu merspon berbagai fenomena perubahan secara sistematis, gradual dan terukur. Setiap gerakan yang dibuat HMI tercecer di berbagai wilayah sehingga tidak menjadi kekuatan sebagai sebuah organisasi besar. Hal itu mesti dirubah dengan membuat suatu system baru yang dilandasi oleh rasa kebersamaan dan kasatuan, tanpa mengurangi hak-hak daerah untuk mengekspresikan potensinya.

Hal-hal di atas hanya merupakan sedikit dari banyaknya persoalan yang mesti dibenahi dan dilakukan perubahan. Perubahan adalah sesuatu yang mutlak terjadi di dunia ini, sedangkan penyikapan secara matang, arif dan bijaksana dilandasi oleh pemikiran yang realistis dan rasional merupakan suatu keharusan jika kita tidak ingin ketinggalan atau bahkan hancur.
Lambat dalam melakukan respon perubahan oleh HMI akan menyeret HMI dalam kubangan lumpur kejumudan tanpa kesudahan dan harapan. Namun respon yang dilakukan HMI sudah semestinya didasarkan atas ketajaman analisis dan daya proyeksi yang matang sehingga akan membawa pada wajah HMI baru yang lebih hebat dari HMI sebelumnya, atau bahkan menjadi gerakan nomor wahid di Indonesia.
Terakhir, saya mengajak kita semua “MARI KITA KERJAKAN SEBELUM GERAKAN LAIN MEMIKIRKAN”. Manusia wajib berikhtiar (berproses), sedangkan segala sesuatu hanya ALLAH SWT yang berkehendak. Semoga ikhtiar kita untuk berubah menjadi nilai amalan yang baik dimata ALLAH SWT. Amien.


Responses

  1. Dua realita yg saya lihat sendiri.mantan ketua HMI UGM. Yang Satu, Say no time to pray. And yg satu tukang bohong ma istri kr doyan ma cewek lain.Apakah itu hasil didikan HMI


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: