Oleh: Fu'adz Al-Gharuty | 2 Februari 2009

KEBUTUHAN MAHASISWA PASCA


I.        Latar Belakang

Dampak dari globalisasi adalah timbulnya persaingan yang semakin tajam dalam berbagai sektor kehidupan. Di bidang pendidikan tinggi, tantangan dan persaingan semakin berat dan kompleks yang diakibatkan oleh ekspansi pasar internasional dalam dunia pendidikan di satu sisi dan dinamika internal pendidikan dalam negeri di sisi lain. Hal ini tercermin dari banyaknya promosi masuk perguruan tinggi di luar negeri yang sangat gencar ke seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Perguruan tinggi tersebut menawarkan berbagai kemudahan bagi mahasiswa lokal untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri dengan cara mengadakan tes-tes di perguruan tinggi negeri di Indonesia (Kompas, 12 Januari 2007). Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi telah ditempatkan sebagai komoditi pasar internasional.

Fenomena perguruan tinggi sebagai komoditi pasar harus direspon secara positif. Respon itu berupa upaya peningkatan kualitas pendidikan agar tidak kalah bersaing dengan perguruan tinggi dari luar negeri. Dalam suatu sistem persaingan yang sempurna, dimana banyak produsen menawarkan barang dan jasa yang sama, maka kunci untuk memenangkan persaingan adalah kualitas, khususnya kualitas pelayanan. Apalagi dewasa ini Perguruan tinggi, sebagai salah satu organisasi jasa, mengalami peningkatan tuntutan dari masyarakat. Tuntutan terhadap perguruan tinggi dewasa ini bukan hanya sebatas kemampuan untuk menghasilkan lulusan berkualitas yang diukur secara akademik, melainkan juga melalui pembuktian akuntabilitas yang baik. Secara umum menurut Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi tuntutan yang diberikan masyarakat kepada perguruan tinggi meliputi jaminan kualitas (quality assurance), pengendalian kualitas (quality control), dan perbaikan kualitas (quality improvement).

Menurut Tilaar (2000) akuntabilitas suatu lembaga pendidikan tinggi berarti sejauh mana lembaga tersebut mempunyai makna dari the share holder lembaga tersebut yakni masyarakat. Jika lembaga tersebut terlepas dari jangkauan atau kebutuhan masyarakat yang memilikinya, maka lembaga tersebut tidak memiliki akuntabilitasnya. Hal lain yang harus diperhatikan suatu lembaga pendidikan tinggi adalah relevansi dari program pendidikan tersebut dengan kebutuhan nyata di masyarakat. Kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang dimaksud diatas, bukan hanya berarti kebutuhan akan ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan saja, tetapi juga kebutuhan-kebutuhan moral dan, etika dan agama yang hidup ditengah-tengah masyarakat. Salah satu kelemahan dalam perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia adalah karena lembaga pendidikan tinggi cenderung mengabaikan kebutuhan mahasiswa. Prioritas lebih diberikan kepada kebutuhan negara atau kebutuhan semu masyarakat sehingga hasil dari lembaga pendidikan tinggi tidak sepenuhnya sesuai dengan perkembangan masyarakat (Kompas, 28 Februari 2008)

Pendidikan tinggi yang menarik di masa depan, menurut Tilaar, yang mampu mengembangkan kemampuan para mahasiswa sehingga perlu didukung fasilitas memadai. PT Harus bisa membangkitkan kemampuan untuk inovasi dan riset serta pengembangan jiwa kewirausahaan dalam mengeksplorasi kekayaan alam dan budaya masyarakat Indonesia. Selanjutnya perguruan tinggi harus mulai memprioritaskan beberapa sikap utama seperti pengembangan bakat atau capacity building, inovasi, dan jiwa kewirausahaan. Perguruan tinggi dalam proses belajar harus memberikan kesempatan pengembangan kapasitas atau bakat para mahasiswa. Akibatnya, proses belajar perlu diubah dari lecturing menjadi active learning

Sejalan dengan hal di atas, UPI sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi yang memfokuskan bidang garapannya pada pengembangan dan pendidikan tenaga pendidik dan kependidikan (LPTK) dituntut pula untuk mengedepankan akuntabilitas dan relevansinya dengan kebutuhan masyarakat. Berbagai program studi yang dibuka oleh UPI tentunya haruslah relevan dengan kebutuhan masyarakat penggunanya. Dalam hal ini, masyarakat pengguna berarti konsumen dari lembaga tersebut. Secara umum tujuan pendidikan UPI bermuara pada upaya pengembangan manusia yang beriman, bertaqwa, bermoral, berakhlak mulia, berilmu, profesional, religius, dan memiliki integritas dan cinta terhadap bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia.

UPI sebagai salah satu organisasi jasa yang bergerak dibidang pendidikan, tidak boleh menutup mata terhadap aspek pelayanannya. Oleh karena itu UPI sebagai lembaga yang sudah lama berkiprah perlu melakukan evaluasi atas kualitas jasa yang diberikan kepada konsumennya, yaitu mahasiswa. Mahasiswa sebagai elemen terpenting pada perguruan tinggi perlu didengarkan, apakah pelayanan yang selama ini diberikan sudah sesuai dengan harapannya. Evaluasi kualitas jasa ini perlu dilakukan untuk mengetahui apa yang sebenarnya diharapkan dan apa yang selama ini dipersepsikan oleh mahasiswa atas kualitas jasa yang diterimanya. Hal ini dikarenakan semua prestasi yang telah diperoleh UPI di mata masyarakat tidak akan ada artinya di mata mahasiswa, apabila mahasiswa tidak puas terhadap kualitas pelayanan UPI. Di sisi lain evaluasi kualitas pelayanan dapat dijadikan sebagai dasar untuk meningkatkan kualitas pelayanan UPI dimasa yang akan datang.

 

II.           Orientasi

Pada masa lalu, perasaan mahasiswa tidak terlalu dipertimbangkan oleh banyak perguruan tinggi. Namun pada masa kini, perasaan menjadi hal yang utama. Alasannya, bila melihat sumber dari perasaan mahasiswa, setiap kontak yang dilakukan ketika menjalani proses pendidikan akan meninggalkan kesan yang tidak terlupakan, baik kesan buruk maupun kesan baik. Kesan buruk akan membuat mahasiswa menceritakan hal yang buruk kepada orang lain, sebaliknya kesan yang baik akan membuat mahasiswa menceritakan hal yang baik pula kepada orang lain. Kesan yang baik akan berdampak baik kepada perguruan tinggi, antara lain akan meningkatkan peminat pendidikan di perguruan tinggi tersebut.

Oleh karenanya program studi administrasi pendidikan sekolah pasca sarjana yang dibuka UPI sudah seharusnya berorientasi pada kebutuhan konsumennya, dalam hal ini mahasiswa pasca. Memang dalam tujuan awal dibukanya program pasca sarjana sudah disebutkan bahwa SPs UPI bertujuan menyiapkan para mahasiswa Program Magister (S2) dan Doktor (S3) untuk menjadi ilmuwan, tenaga kependidikan dan tenaga profesional lainnya yang memiliki kemampuan sebagai perencana, pengembang, pemikir, dan praktisi yang memiliki: (a) wawasan yang luas dan kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan dengan segala aspeknya; (b) penguasaan yang mendalam dalam bidang ilmu yang menjadi keahliannya; (c) kemampuan meneliti, mengembangkan, merencanakan, dan mengelola pendidikan serta menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan dan bidang-bidang lainnya. Namun apakah hal itu sudah menjawab kebutuhan mahasiswa pasca secara menyeluruh? Penulis beranggapan bahwa bukan hanya masalah-masalah yang berkaitan dengan akademik yang menjadi kebutuhan mahasiswa, tetapi banyak faktor lain yang menjadi kebutuhan penting bagi proses kelancaran pendidikan para mahasiswa ketika sedang menjalani proses pendidikannya. Kebutuhan non akademik pun haruslah menjadi pertimbangan UPI, agar seluruh kebutuhan mahasiswa ketika sedang menjalani proses pendidikan bisa terpenuhi, yang pada prosesnya bisa memacu dan memperlancar keberlangsungan pendidikan para mahasiswanya.

Dalam buku panduan dikatakan bahwa Program studi Administrasi Pendidikan diperuntukan bagi siapapun yang berkeinginan untuk: (a) memperluas, mempertajam, dan memperdalam kemampuan konseptual-teoretis; (b) memperluas, mempertajam, dan memperdalam kemampuan menerapkan konsep/teori sebagai alat deskripsi analisis-prediksi dan sebagai alat dalam memecahkan masalah empiris di bidang administrasi pendidikan; (c) mengembangkan kemampuan untuk menemukan gagasan, konsep dan metode baru. Dengan fokus utama pada produktivitas pendidikan, kerangka program studi ini antara lain meliputi bahasan tentang kedudukan sekolah, kepemimpinan, status, dan kompetensi tenaga kependidikan, fasilitas sekolah, fasilitas belajar-mengajar, sistem evaluasi, dan keuangan sekolah.

Dengan tetap mengarahkan fokus utama pada produktivitas pendidikan, pada tingkat makro kerangka program studi ini mencakup analisis sasaran tujuan, artikulasi berbagai nilai yang tersangkut, metodologi atau teknik-teknik yang digunakan, serta proses penyusunan kebijakan dan perencanaan, partisipasi organisasi pendidikan dan masyarakat pada umumnya. Dibahas pula implikasinya pada kriteria dan ukuran keberhasilannya. Lulusan program studi ini diharapkan menguasai disiplin ilmu administrasi pendidikan baik secara umum maupun dalam bidang konsentrasinya serta berusaha mengembangkannya melalui penelitian dan mampu menemukan gagasan, konsepsi, dan metode baru bagi kepentingan pembinaan administrasi pendidikan pada berbagai konteks dan tingkatan.

 

 

 

III.         Penelusuran Minat/Kebutuhan Mahasiswa Pasca

Pada dasarnya kebutuhan setiap mahasiswa (pelajar) dalam menjalani proses pendidikan tentunya sama yaitu mendapatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diharapkan nantinya bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Kebutuhan jenis ini adalah yang bersifat akademik. Kebutuhan akademis ternyata tidak cukup hanya dengan mendapatkan transfer teori, konsep dan pengalaman dari para dosen, tetapi juga membutuhkan seperangkat pendukung akademis lainnya, seperti layanan-layanan administrasi, ketersediaan teksbook, dll.

Kebutuhan akan layanan administrasi dari sebuah lembaga pendidikan menjadi faktor pendukung penting bagi kelancaran proses pendidikan mereka. Oleh sebab itu, jika lembaga pendidikan profesional dalam mengelola kebutuhan jenis ini, maka mahasiswa akan merasa terlayani kebutuhannya oleh lembaga tersebut. Seringkali ketika mendengar kata administrasi yang terbayang pada masyarakat umum adalah sistem layanan yang birokratis, berbelit-belit, tidak jelas, sumber daya manusia yang masih belum menyadari arti pentingnya pelanggan, pengetahuan dan kemampuan yang kurang, sikap dan perilaku yang belum baik, dan hal-hal buruk lainnya.

Pelayanan administrasi di Sekolah Pascasarjana UPI merupakan bagian yang tak terpisahkan dari seluruh kegiatan pendidikan pascasarjana. Kegiatan administrasi bertujuan untuk memberikan dukungan kepada kegiatan yang bersifat akademis. Dalam era persaingan yang sangat kompetitif, peran pelayanan administrasi menjadi isu yang perlu mendapatkan perhatian dari seluruh komponen yang terlibat dalam pengembangan lembaga pendidikan. Sebab dalam proses bisnis di perguruan tinggi sistem administrasi dan pelayanan akademik merupakan bagian yang paling banyak bersentuhan dengan mahasiswa, sehingga yang terpikir pertama kali oleh mahasiswa ketika ditanya bagaimana kualitas pelayanan di sebuah perguruan tinggi, maka hampir pasti yang dinilainya adalah pelayanan administrasi. Oleh karena itu dalam era persaingan, pelayanan administrasi menjadi penentu keberhasilan meraih konsumen (mahasiswa). Apabila pelayanan yang diterima mahasiswa tidak memperhatikan dimensi-dimensi pelayanan, maka mahasiswa tidak akan puas dengan pelayanan yang diberikan di Sekolah Pascasarjana.

Pengalaman penulis dan kawan-kawan lainnya selama belajar di prodi adpen SPs UPI, merasakan bahwa layanan administrasi ini masih kurang, dimana seringkali mahasiswa kebingungan untuk mengurus berbagai hal yang sifatnya administratif. Terlebih jika di awal dan akhir semester. Hal ini mungkin diakibatkan kurangnya sosialisasi dari pihak kampus mengenai prosedur dan tatakerja yang berlaku di lembaga UPI dalam hal layanan administrasi ini. Sehingga tidak jarang membuat kebingungan para mahasiswanya. Ditambah lagi dengan pengurusan administrasi tertentu yang harus dilakukan ditempat yang berlainan gedung dengan SPs, sehingga menyulitkan bagi mahasiswa.

Selain kebutuhan akademis berupa adminstrasi, kebutuhan akan sumber referensi/teksbook dan layanan fasilitas internet pada masa kini sangatlah besar. Keberadaan perpustakaan di UPI memang sangat membantu mahasiswa mendapatkan berbagai sumber referensi, tetapi ketersediaan buku-buku dan referensi lainnya sangatlah minim, sehingga mahasiswa tetap harus mencari sumber-sumber tersebut di luar kampus. Hal ini tentu sedikit banyaknya menghambat kelancaran proses pendidikan. Ketersedian fasilitas internet juga saat ini menjadi pendukung yang signifikan bagi kelancaran pendidikan, sebab jaringan internet memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk bisa mencari berbagai sumber ilmu dan pengetahuan yang berkaitan dengan program studinya. Sayangnya, fasilitas ini belum mbisa maksimal diakses oleh para mahasiswa, terlebih lagi jika berbicara mengenai gedung baru pasca yang masih belum tersedianya fasilitas ini.

Selain kebutuhan akademis, ada juga kebutuhan lain sebagai pendukung seperti berbagai sarana prasarana penunjang pendidikan diantaranya tempat foto copy, sarana ibadah, lapangan parkir, sarana olahraga, kantin/warung, dll. Sarana prasarana ini meski bukan kebutuhan pokok, namun sangat penting bagi para mahasiswa dalam menjalani proses pendidikan selama di UPI. Sebagai contoh, dengan banyaknya tugas yang diberikan setiap perkuliahan, tentunya dibutuhkan fasilitas foro copy baik untuk penggandaan ataupun penjilidan tugas. Sebenarnya di dalam lingkungan kampus pun itu ada, namun jumlahnya sangat terbatas dan tidak sebanding dengan jumlah konsumen. Jika harus keluar areal kampus tempatnya lumayan jauh, sehingga dari segi waktu kurang efisien. Itu baru sedikit masalah yang muncul dari realitas yang ada, sebab jika dirinci, fasilitas-fasilitas penunjang ini benar-benar sangat dibutuhkan mahasiswa.

Mengenai sarana yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran adalah ketersediaan perangkat teknologi pembelajaran (multi media) yang masih minim. Sebagai contoh kasus adalah fasilitas proyektor (infocus). Setiap hari selama perkuliahan berlangsung, hampir semua kelas membutuhkan peralatan ini untuk sarana presentasi di depan kelas, namun penggunaannya harus berebut dan harus sistem booking terlebih dahulu. Ini terkendala karena jumlahnya yang sedikit yang dimiliki kampus. Padahal kalau dihitung secara kasar rasio biaya perkuliahan pasca sarjana dengan nilai/harga sebuah infocus sepertinya masih terjangkau. Namun entah mengapa pihak kampus seolah tidak mempedulikan kebutuhan tersebut. Selain hal-hal tersebut, masih banyak hal lain yang perlu dibenahi terutama sarana prasarana guna mendukung optimalisasi pembelajaran mahasiswa pasca.

 

IV.        Daya Dukung dan Kesiapan Prodi

Berbicara daya dukung dan kesiapan prodi adpen dalam melayani kebutuhan mahasiswa dapat dilihat dari beberapa kategori, diantaranya ketersediaan dosen, sistem kurikulum yang dikembangkan, layanan administrasi, evaluasi pembelajaran, sarana kelas dan berbagai penunjangnya, dan lain-lain.

Dosen sebagai salah satu sumber bagi transfer dan sharing ilmu pengetahuan yang dimiliki prodi adpen masih sangat sedikit jumlahnya dan tidak seimbang dengan jumlah rombongan belajar/ kelas yang dibuka oleh prodi. Hal ini tentunya akan memunculkan masalah dalam melayani proses perkuliahan karena adanya tarik menarik jadwal perkuliahan, dan mahasiswa lah yang dirugikan oleh hal itu, sebab kadangkala masih banyak dosen yang bentrok waktu mengajarnya sehingga tidak masuk kelas.

Dari segi transfer dan sharing ilmu pengetahuan yang dilakukan dosen dengan mahasiswa, setidaknya ada beberapa hal yang perlu dibicarakan. Pertama mengenai sumber referensi, dimana kebanyakan teksbook yang digunakan dalam perkuliahan jarang ada di toko-toko buku sehingga harus dicopy. Sebenarnya memang tidak kesulitan jika harus mengcopy, namun kadangkala sulit juga menemukan sumber tersebut jika hanya diberi tahu judul dan pengarangnya. Selain itu, keterbatasan para mahasiswa dalam menguasai bahasa inggris, menyebabkan kesulitan dalam memahami isi dari teksbook tersebut. Hampir sebagian besar buku sumber berbahasa inggris, sehingga kemampuan yang terbatas dari mahasiswa menyebabkan proses pemahaman yang terbatas pula, yang pada akhirnya mahasiswa jadi asal dalam menyajikan book report atau chapter reportnya. Sebetulnya memang kelemahan ada di mahasiswanya, namun kebutuhan mahasiswa untuk memahami isi buku jadi terhambat juga hanya karena keterbatasan penguasaan bahasa.

Persoalan lain yang sering terjadi adalah dalam metode perkuliahan dimana beberapa dosen mengandalkan terlalu besar pada kegiatan pembelajaran mandiri mahasiswa. Setiap pertemuan hanya diisi oleh penyajian mahasiswa, terkadang dosen hanya sedikit saja mengulas, itu pun kadang keterkaitan dengan materi bahasan saat itu tidak menyentuh. Apalagi jika kehadiran para dosen untuk tatap muka sangat jarang, sehingga praktis di ruang kelas itu hanya antar mahasiswa, padahal terkadang penguasaan teori atau konsepnya sama-sama kurang, sehingga materi tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Fenomena lain berkaitan dengan prodi adalah dengan dibukanya kelas-kelas baru tambahan sebagai kelas kerjasama baik dengan depag atau lainnya, dirasakan mengurangi kualitas layanan yang diberikan kepada mahasiswa oleh prodi ataupun dosen. Hal ini berpengaruh pada penjadwalan dosen, ketersediaan ruang kuliah, dan lainnya. Jika kualitas layanan ini semakin berkurang sebagai akibat dari terlalu banyaknya rombongan belajar, maka dalam beberapa tahun ke depan bisa dipastikan akan memunculkan kesan kurang baik. Kesan ini bisa memperburuk citra lembaga pada masa yang akan datang sebab bisa jadi tuduhan yang selama ini diarahkan ke sekolah pasca sarjana di PTS akan juga dialami oleh UPI. Anggapan bahwa asal dapat gelar tidak peduli dengan proses perkuliahan, bisa saja terjadi di UPI. Maka seyogyanya hal itu sudah harus diantisipasi oleh lembaga.

 

DAFTAR SUMBER;

 

Tilaar, H.A.R. 2000. Paradigma Baru Pendidikan Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

UPI. 2007. Informasi Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.

UPI. 2007. Pedoman Akademik Sekolah Pasca Sarjana UPI. Bandung.

Uwes, Sanusi. 1999. Manajemen Pengembangan Mutu Dosen. Jakarta: Wacana Ilmu.

Diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/02/28/20551080/

Diunduh dari http://www.upi.edu/


Responses

  1. Asslamu’alaikum

    Sebelumnya mohon maaf mengganggu,, setelah td membaca tulisannya mengenai kualitas layanan kebetulan saya sedang dan akan meneliti hal itu. bolehkah saya meminta data awal tentang kualitas layanan mahasiswa UPI untuk literaturnya.. saya masih kekurangan data… mkch sebelumnya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: