Oleh: Fu'adz Al-Gharuty | 6 Februari 2009

PROFILE Pondok Pesantren Cipari


Pondok pesantren menurut Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya Tradisi Pesantren (1994) mempunyai banyak fungsi diantaranya sebagai lembaga pertahanan umat Islam dan pusat penyebaran Islam. Sejarah telah mencatat bahwa keberadaan lembaga pesantren di Indonesia yang mulai booming pada pertengahan abad 19 M, telah memainkan banyak peranan ditengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia.

Sejak masa penjajahan sampai detik ini, lembaga pesantren di Indonesia masih tetap berdiri dan malah bertambah banyak dan maju, baik dari secara kuantitas maupun kualitasnya, padahal derasnya modernisasi dan globalisasi sudah memunculkan banyak lembaga kemasyarakatan dan pendidikan yang cukup variatif dengan dukungan finansial dan sarana prasarana yang mungkin lebih baik dari lembaga pesantren yang senantiasa dianggap kolot (Tradisional)

Tak bisa dipungkiri lagi bahwa peranan pesantren dalam memajukan dan mengembangkan masyarakat Indonesia menjadi unsur terpenting dalam proses sejarah bangsa ini. Hal itu terutama ketika masa penjajahan dan menjelang kemerdekaan Indonesia, dimana pesantren merupakan salah satu lembaga kemasyarakatan paling aktif dan progressif dalam penyadaran masyarakat Indonesia dari penjajahan.

Pondok Pesantren Cipari lah salah satu bukti dan saksi sejarah yang terlibat dalam proses sejarah tersebut. Lembaga pesantren ini telah berdiri sejak akhir abad 19 M yang berlokasi di Garut Timur, tepatnya di kampung Cipari desa Sukarasa Kecamatan Pangatikan Garut. Lokasi pesantrennya yang berdiri ditengah-tengah masyarakat tanpa adanya pembatas fisik (benteng) menunjukkan bahwa keberadaan pesantren tersebut sejak awal tidak terlepas dari dukungan dan peran masyarakat disekitarnya. Sementara itu pengelolaan pesantren berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Cipari, dimana pengurusnya berasal dari masyarakat sekitar.

Pesantren Cipari didirikan oleh KH. Zaenal Abidin yang dikenal dengan sebutan Eyang Bungsu pada abad 19, yang lebih menitikberatkan pada pendidikan non formal berupa majelis ta’lim untuk masyarakat, pengajian kitab kuning dan Al-Qur’an untuk para santri. Pada awal abad 20, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh KH. Harmaen. Pada masa inilah peran serta pesantren Cipari dalam kancah perjuangan bangsa menjadi salah satu bidang garapannya, terutama ketika meletusnya peristiwa Afdelling Affairs B Cimareme, dimana para tokoh pesantren banyak yang ditangkap dan dipenjarakan Belanda.

Menjelang kemerdekaan dan awal kemerdekaan, kepemimpinan Pesantren dilanjutkan oleh anak-anak KH. Harmaen, diantaranya H. Abdul Kudus, KH. Yusuf Tauziri dan Hj. Siti Quraisyin. Pada masa kemerdekaan, PP. Cipari sudah berbentuk Yayasan, dengan bidang kegiatan Majelis Ta’lim, pendidikan Formal dan non-formal. Pendidikan formal baru dibuka di pesantren ini sekitar tahun 1970-an dengan mendirikan Madrasah Tsanawiyah dan SPIAIN. Sekita pertengahan tahun 1980-an SPIAIN diubah namanya menjadi Madrasah Aliyah. Dua jenis pendidikan formal ini masih berjalan hingga saat ini.

Mejelis ta’lim yang diselenggarakan di PP. Cipari rutin diadakan setiap hari selasa khusus untuk kaum perempuan sedangkan hari Sabtu untuk para ustadz dari berbagai wilayah di Garut Timur. Pengajian insidental sering diadakan berkenaan dengan hari-hari besar umat Islam seperti peringatan Tahun baru Islam (Muharaman), Maulid Nabi dll. Pengajian bagi santri rutin diadakan setiap hari yaitu ba’da ashar, maghrib, isya dan subuh. Kitab yang dikaji diantaranya kitab fiqh, alat (bahasa), Hadits, dan tafsir qur’an.

Santri yang mesantren di PP. Cipari datang dari berbagai daerah diantaranya Bandung, Jakarta, Sumedang, Tasik, Jawa, Palembang, Medan, Aceh, Maluku, Papua, dll. Santri disini terbagi atas dua kelompok, yaitu santri Takhosus Al-Qur’an dimana mereka hanya memfokuskan pada pengajian Al-Qur’an, hadits, dan kitab kuning, dan santri yang mengaji sambil bersekolah di MTs dan MA. Para alumnus pesantren ini sudah tersebar diberbagai daerah bahkan diantaranya sudah banyak yang memimpin pesantren. Santri yang dari jalur pendidikan formal sudah banyak yang meneruskan ke PT baik di Indonesia maupun luar negeri, diantaranya Al-Azhar (Mesir), Madinah, ITB, UNPAD, UPI, UGM, UI, IAIN, dll.

Fasilitas dan gedung kegiatan yang dimiliki pesantren ini terdiri atas tiga gedung asrama yang menampung santri putra-putri dari luar daerah, dua gedung sekolah MTs dan MA, 1 gedung Aula tertutup, 1 gedung aula terbuka, disini pun memiliki ruang laboratorium IPA, dua buah perpustakaan, koperasi sekolah, lapangan bola volly dan tenis meja. Sementara itu ditengah-tengah pesantren berdiri megah bangunan Mesjid Al-Syura yang sudah berdiri sejak tahun 1930 dengan arsitektur yang mirip benteng pertahanan militer dan memiliki menara setinggi 26 m dengan diameter sekitar 2 m.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: